- ltcreno – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan pembangunan manusia harus menjadi salah satu tujuan dari pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) saat diimplementasikan dalam bisnis untuk merespons pasar di era digital.
Menurut Nezar, nilai sejati AI justru muncul ketika teknologi berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas manusia.
“Ini poin yang paling penting saya kira, yakni membangun manusia, bukan hanya sistem,” kata Nezar dalam keterangan persnya yang diterima dan dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Ia mengutip catatan World Economic Forum. “World Economic Forum mencatat bahwa produktivitas sejati dari AI hanya tercipta ketika kemampuan manusia turut berkembang bersamanya.” Nezar menegaskan, “Jadi jangan sisihkan manusia dalam proses sistem yang bertopang pada AI.”
AI Tak Terelakkan, Tapi Manusia Tetap Kunci
Nezar mengatakan pemanfaatan AI memang tidak terelakkan lagi dalam dunia bisnis. Fungsinya kini tak lagi sebatas mendukung otomasi. AI sudah berdampak pada pengambilan keputusan bisnis yang lebih kompleks.
Namun ia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Tanpa pengembangan kapasitas manusia, AI tidak akan memberikan nilai optimal. Perusahaan yang sukses mengadopsi AI adalah perusahaan yang juga berinvestasi pada sumber daya manusianya.
AI di Indonesia dan Tantangan Ke Depan
Pemerintah terus mendorong adopsi AI di berbagai sektor. Namun Nezar menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia. Pelatihan dan peningkatan keterampilan pekerja harus berjalan seiring dengan implementasi teknologi.
Ia juga menyoroti risiko pengabaian peran manusia. Jika manusia disisihkan, bukan efisiensi yang didapat tetapi justru masalah sosial baru. Pengangguran teknologi dan kesenjangan digital bisa melebar.
Karena itu, Nezar mengajak para pelaku bisnis untuk bijak memanfaatkan AI. Teknologi harus melayani manusia, bukan sebaliknya. Dengan keseimbangan yang tepat, AI bisa menjadi pendorong kemajuan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Baca Juga : Lanud Iswahjudi Gelar Pendidikan Transisi T-50i Skadud 15“
Wamenkomdigi: AI Bisa Tingkatkan Produktivitas Piutang hingga 82 Persen
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan pembangunan manusia harus menjadi salah satu tujuan dari pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) saat diimplementasikan dalam bisnis untuk merespons pasar di era digital.
Menurut Nezar, nilai sejati AI justru muncul ketika teknologi berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas manusia.
“Ini poin yang paling penting saya kira, yakni membangun manusia, bukan hanya sistem,” kata Nezar dalam keterangan persnya yang diterima dan dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Ia mengutip catatan World Economic Forum. “World Economic Forum mencatat bahwa produktivitas sejati dari AI hanya tercipta ketika kemampuan manusia turut berkembang bersamanya.” Nezar menegaskan, “Jadi jangan sisihkan manusia dalam proses sistem yang bertopang pada AI.”
Studi Buktikan Dampak Nyata AI pada Bisnis
Hal ini juga telah dibuktikan beragam studi terhadap perusahaan. Perusahaan yang menggunakan AI akhirnya mengalami pertumbuhan produktivitas signifikan dalam bisnis. Dampak terlihat terutama dalam proses pengelolaan piutang dan transaksi .
Nezar mengungkapkan beberapa studi yang dimaksud. Salah satunya adalah laporan Stanford AI Index 2025 . Berdasarkan laporan itu, adopsi AI di dunia bisnis global meningkat signifikan. Sebanyak 78 persen organisasi telah memanfaatkan AI. Angka ini naik dari tahun sebelumnya yang hanya 55 persen .
Selain itu, ia memberikan contoh dari studi lain. Studi tersebut melibatkan 500 perusahaan yang mengadopsi AI dalam proses piutang. Dampak AI terasa nyata dengan hadirnya peningkatan produktivitas hingga 82 persen. Efisiensi operasional pun dapat mencapai 60 persen .
AI Tak Terelakkan, Tapi Manusia Tetap Kunci
Nezar mengatakan pemanfaatan AI memang tidak terelakkan lagi dalam dunia bisnis. Fungsinya kini tak lagi sebatas mendukung otomasi. AI sudah berdampak pada pengambilan keputusan bisnis yang lebih kompleks.
Namun ia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Tanpa pengembangan kapasitas manusia, AI tidak akan memberikan nilai optimal. Perusahaan yang sukses mengadopsi AI adalah perusahaan yang juga berinvestasi pada sumber daya manusianya.
Tantangan Transformasi Digital
Wamen Nezar juga menekankan bahwa tantangan utama transformasi digital di sektor keuangan bukan hanya terletak pada teknologi. Hambatan terbesar justru berasal dari kepemimpinan dan budaya organisasi di sebuah perusahaan .
“Banyak inisiatif AI berhenti di tahap uji coba tanpa memberikan dampak nyata,” tegasnya .
AI di Indonesia dan Tantangan Ke Depan
Pemerintah terus mendorong adopsi AI di berbagai sektor. Namun Nezar menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia. Pelatihan dan peningkatan keterampilan pekerja harus berjalan seiring dengan implementasi teknologi.
Ia juga menyoroti risiko pengabaian peran manusia. Jika manusia disisihkan, bukan efisiensi yang didapat tetapi justru masalah sosial baru. Pengangguran teknologi dan kesenjangan digital bisa melebar.
Karena itu, Nezar mengajak para pelaku bisnis untuk bijak memanfaatkan AI. Teknologi harus melayani manusia, bukan sebaliknya. Dengan keseimbangan yang tepat, AI bisa menjadi pendorong kemajuan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Baca Juga : Mercedes-Benz EQS 2026 Fokus Jarak 925 Km“




Leave a Reply