- ltcreno – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan bahwa kerja sama energi antara Indonesia dengan negara-negara mitra dijalankan berdasarkan kepentingan nasional, sehingga tidak perlu dipertentangkan antara satu negara dengan yang lainnya.
“Kita tahu konteks kerja sama tersebut adalah diversifikasi sumber untuk memastikan ketahanan energi. Jadi, kepentingan nasional kita menjadi prioritas,” kata Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela di Jakarta, Kamis .
Respons Terkait Kerja Sama dengan AS dan Rusia
Hal tersebut disampaikan Nabyl terkait kelanjutan kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat di sektor energi setelah keputusan Indonesia melakukan pengadaan minyak mentah (crude oil) dan elpiji kepada Rusia. Nabyl menyampaikan bahwa kerja sama Indonesia dengan AS maupun Rusia sama-sama dilakukan dengan sangat matang.
Indonesia sebelumnya telah meneken kesepakatan dagang dengan AS pada Februari 2026 yang mencakup komitmen pembelian energi senilai total US$ 8 miliar, dengan rincian US$ 4,5 miliar untuk minyak mentah AS dan US$ 3,5 miliar untuk elpiji .
Hubungan Matang dengan Kedua Negara
Nabyl menekankan bahwa Indonesia memiliki hubungan yang sangat matang dengan AS. Hubungan yang sama juga terjalin baik dengan Rusia. Masih banyak ruang untuk memajukan kerja sama dengan masing-masing negara tersebut di berbagai bidang.
“Kami memiliki hubungan yang sangat matang dengan AS. Begitu pula dengan hubungan kami dengan Rusia. Masih ada ruang besar untuk kerja sama. Jadi kesepakatan dengan Rusia tidak akan mempengaruhi hubungan dengan AS,” ujar Nabyl dalam jumpa pers di Jakarta .
Kebutuhan Energi Nasional yang Tinggi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebelumnya mengungkapkan bahwa Indonesia membutuhkan sekitar 300 juta barel minyak mentah per tahun. Produksi dalam negeri hanya sekitar 600.000 barel per hari, sementara konsumsi mencapai 1,6 juta barel per hari .
Krisis energi global yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz akibat konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran telah mendorong pemerintah untuk mengidentifikasi sumber minyak alternatif dari berbagai negara .
Kesepakatan dengan Rusia
Dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Moskow pada 13 April 2026, kedua pemimpin sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang energi dan ekonomi . Rusia telah menyatakan kesiapan untuk memasok minyak mentah kepada Indonesia serta membantu membangun infrastruktur penting untuk memperkuat cadangan dan ketahanan energi nasional .
Menteri Bahlil mengungkapkan bahwa negosiasi untuk pasokan minyak mentah dari Rusia sudah memasuki tahap final, sementara untuk impor elpiji masih memerlukan dua hingga tiga putaran pembicaraan lagi .
Kebijakan Bebas Aktif di Bidang Ekonomi
Bahlil menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas aktif juga berlaku di bidang ekonomi. “Pemerintah Indonesia selalu memprioritaskan politik luar negeri yang bebas aktif, dan di dalamnya terdapat kebijakan ekonomi bebas aktif,” ujarnya .
Indonesia bebas untuk berinteraksi dengan negara lain selama tetap berkomitmen terhadap kerja sama yang telah terjalin, termasuk dengan AS . Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk memastikan pasokan energi yang cukup bagi bangsa melalui berbagai kesepakatan bilateral yang mengutamakan kepentingan nasional .
“Baca Juga :Mercedes-Benz EQS 2026 Fokus Jarak 925 Km“
Bahlil: Kerja Sama Energi dengan AS Tetap Berjalan, Indonesia Akan Ambil Pasokan dari Banyak Negara
Secara terpisah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan nasib kerja sama Indonesia-AS di sektor energi akan tetap berjalan dan tidak terganggu, meskipun Indonesia saat ini menjajaki pembelian minyak dan elpiji dari Rusia.
Di pelataran Istana Merdeka, Jakarta, Kamis sore, Bahlil menjelaskan kebutuhan minyak mentah dalam negeri kurang lebih mencapai 300 juta barel per tahun. Oleh karena itu, Indonesia akan menerima pasokan minyak mentah dari berbagai negara, termasuk dari AS dan Rusia.
“Pertanyaannya kemudian, dengan kita membeli crude oil dari Rusia, kemudian bagaimana perjanjian kita dengan negara lain, termasuk dengan Amerika?” ujar Bahlil. “Saya katakan bahwa kebutuhan crude oil kita setiap tahun itu kurang lebih sekitar 300 juta barel. Jadi, semuanya kita ambil. Mana yang menguntungkan untuk negara kita, harus kita lakukan,” lanjutnya.
Indonesia Butuh 300 Juta Barel per Tahun
Bahlil menegaskan bahwa angka kebutuhan minyak mentah nasional sangat besar. Produksi dalam negeri hanya sekitar 600.000 barel per hari. Sementara konsumsi mencapai 1,6 juta barel per hari. Kekurangan pasokan ini harus ditutup melalui impor dari berbagai negara.
Krisis energi global yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz akibat konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran telah mendorong pemerintah untuk mengidentifikasi sumber minyak alternatif dari berbagai negara.
Pertamina Tindaklanjuti Arahan Pemerintah
Sementara itu, merespons keputusan Indonesia menjajaki pembelian energi dengan Rusia, PT Pertamina (Persero) menyatakan akan menindaklanjuti sesuai arahan dan regulasi yang ditetapkan Pemerintah. BUMN energi tersebut siap mengimplementasikan kebijakan diversifikasi sumber energi nasional.
Kesepakatan dengan AS dan Rusia
Indonesia sebelumnya telah meneken kesepakatan dagang dengan AS pada Februari 2026 yang mencakup komitmen pembelian energi senilai total US$ 8 miliar, dengan rincian US$ 4,5 miliar untuk minyak mentah AS dan US$ 3,5 miliar untuk elpiji.
Dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Moskow pada 13 April 2026, kedua pemimpin sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang energi dan ekonomi. Rusia menyatakan kesiapan untuk memasok minyak mentah kepada Indonesia serta membantu membangun infrastruktur penting untuk memperkuat cadangan dan ketahanan energi nasional.
Kebijakan Bebas Aktif di Bidang Ekonomi
Bahlil menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas aktif juga berlaku di bidang ekonomi. “Pemerintah Indonesia selalu memprioritaskan politik luar negeri yang bebas aktif, dan di dalamnya terdapat kebijakan ekonomi bebas aktif,” ujarnya.
Indonesia bebas untuk berinteraksi dengan negara lain selama tetap berkomitmen terhadap kerja sama yang telah terjalin, termasuk dengan AS. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memastikan pasokan energi yang cukup bagi bangsa melalui berbagai kesepakatan bilateral yang mengutamakan kepentingan nasional.
“Baca Juga : Pemanfaatan AI di Bisnis Harus Fokus Pembangunan Manusia”




Leave a Reply