ltcreno.com – Tentara Israel Tembak Mati Bocah 11 Tahun di Tepi Barat di Kota Al-Rihiya, Tepi Barat. Korban bernama Mohammad Hallaq, tertembak saat duduk di depan rumahnya pada Kamis (16/10/2025). Insiden ini kembali menyoroti meningkatnya kekerasan terhadap anak-anak di wilayah pendudukan Palestina.
Menurut laporan AFP, peluru yang ditembakkan tentara Israel menembus pinggul Hallaq dan menyebabkan luka fatal. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong. Peristiwa tersebut terjadi ketika patroli militer Israel melintas di kawasan perumahan warga.
“Baca juga : Vitamin untuk Atasi Stres, Ini Rekomendasi dari Ahli”
Kesaksian Keluarga dan Kronologi Tentara Israel Ke Bocah 11 Tahun
Paman korban, yang juga bernama Mohammad Hallaq, mengatakan keponakannya tidak terlibat dalam kerusuhan. Ia hanya duduk di depan rumah saat pasukan Tentara Israel terlibat konfrontasi dengan sekelompok pemuda.
“Para tentara menembak langsung ke arah anak-anak muda itu, dan peluru mengenai keponakan saya yang sedang duduk jauh dari lokasi,” kata sang paman kepada AFP.
Warga sekitar mengungkapkan bahwa penembakan terjadi tanpa adanya peringatan. Tentara Israel Tembak Mati Bocah 11 Tahun diduga menembak secara acak ketika terjadi ketegangan di kawasan tersebut. Hingga kini, otoritas Israel belum memberikan keterangan resmi terkait insiden itu.
Meningkatnya Kekerasan terhadap Anak di Wilayah Pendudukan
Data dari UNICEF mencatat, lebih dari 100 anak Palestina tewas di Tepi Barat sejak awal 2025 akibat operasi militer Israel. Banyak korban merupakan anak-anak yang tidak terlibat langsung dalam bentrokan.
Organisasi hak asasi manusia menilai penembakan terhadap warga sipil, khususnya anak-anak, melanggar hukum humaniter internasional. Mereka menyerukan penyelidikan independen dan meminta komunitas internasional menekan Israel agar menghentikan penggunaan kekuatan berlebihan.
Insiden yang menimpa Mohammad Hallaq menambah daftar panjang korban sipil dalam konflik berkepanjangan di Tepi Barat. Hingga kini, keluarga korban menuntut keadilan dan meminta agar pelaku penembakan diproses secara hukum.
Tentara Israel Akui Tentara Melepaskan Tembakan di Al-Rihiya
Militer Israel mengonfirmasi bahwa tentaranya melepaskan tembakan saat terjadi bentrokan di Kota Al-Rihiya, Tepi Barat. Pernyataan ini muncul setelah insiden penembakan yang menewaskan bocah 11 tahun bernama Mohammad Hallaq. Kasus tersebut memicu kecaman luas dari kelompok hak asasi manusia dan memperburuk citra Israel di mata dunia.
Dalam pernyataan resmi, juru bicara militer Israel menyebut bahwa pasukan dikerahkan ke Al-Rihiya untuk menangani kerusuhan. “Tentara membalas dengan tembakan ke arah para tersangka yang melempar batu. Tembakan telah teridentifikasi,” kata pihak militer, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (19/10/2025).
Namun, pernyataan itu tidak menjelaskan bagaimana peluru bisa mengenai anak berusia 11 tahun yang tengah duduk di depan rumahnya. Warga dan keluarga korban menyatakan bahwa Hallaq tidak ikut dalam kerusuhan dan menjadi korban salah sasaran.
Menurut UNICEF dan lembaga HAM seperti Human Rights Watch, penembakan terhadap anak-anak di wilayah pendudukan melanggar prinsip hukum humaniter internasional. Mereka mendesak penyelidikan independen atas insiden ini serta akuntabilitas bagi pelaku di lapangan.
Kekerasan di Tepi Barat terus meningkat sepanjang 2025, dengan lebih dari 100 anak Palestina tewas akibat operasi militer Israel. Pengamat menilai tindakan represif tersebut memperburuk ketegangan dan menghambat upaya perdamaian di kawasan.
Insiden di Al-Rihiya menambah tekanan internasional terhadap Israel untuk mengubah pendekatan militernya terhadap warga sipil Palestina. Pemerhati HAM menekankan bahwa tanpa akuntabilitas, kekerasan serupa akan terus berulang dan mengancam generasi muda di wilayah konflik.




Leave a Reply