P2G Imbau Guru Tak Takut Disiplinkan Siswa Usai Kasus Cimarga

P2G Imbau Guru Tak Takut Disiplinkan Siswa Usai Kasus Cimarga

•

ltcreno.com – P2G Imbau Guru Tak Takut Disiplinkan Siswa dilema yang sering dihadapi guru ketika menegur siswa. Kepala sekolah, Dini Fitria, mengaku banyak guru kini merasa takut memberi sanksi karena khawatir dilaporkan orang tua ke pihak berwenang.

Satriwan menilai, laporan orang tua terhadap tindakan disiplin sekolah menunjukkan lemahnya komunikasi antara pihak sekolah dan keluarga. Ia menegaskan, pelanggaran seperti merokok di area sekolah harusnya diselesaikan dengan pendekatan pembinaan, bukan laporan pidana.

“Orang tua seharusnya dipanggil pihak sekolah untuk diberi penjelasan soal tata tertib. Laporan ke polisi justru mencederai semangat pendidikan,” tuturnya.

“Baca juga : Efek Gas Air Mata Bisa Bertahan hingga Beberapa Jam”


P2G Imbau Dorong Komunikasi dan Perlindungan Guru yang Berimbang

P2G meminta pemerintah daerah dan dinas pendidikan memperkuat sistem perlindungan guru agar mereka dapat menjalankan tugas tanpa tekanan hukum yang berlebihan. Menurut Satriwan, keputusan Pemprov Banten untuk mengembalikan jabatan Kepala SMAN 1 Cimarga merupakan langkah positif, namun harus diikuti pembenahan sistem pembinaan.

Ia menegaskan, setiap pelanggaran di sekolah sebaiknya ditangani melalui mekanisme internal yang mendidik, bukan dengan kriminalisasi. P2G juga mendorong pelatihan etika dan komunikasi bagi guru agar tindakan disiplin tetap dalam koridor pendidikan yang humanis.

“Guru butuh dukungan, bukan ketakutan. Pendidikan karakter tidak akan tumbuh jika guru dibayangi ancaman hukum,” pungkas Satriwan.

Kasus SMAN 1 Cimarga menjadi pelajaran penting bahwa keseimbangan antara penegakan disiplin dan perlindungan siswa harus dijaga. Dengan komunikasi yang terbuka antara guru, orang tua, dan pemerintah, lingkungan belajar yang aman dan berkarakter dapat tercipta.

Kepala SMAN 1 Cimarga dan Orang Tua Siswa Akhiri Kasus dengan Damai

Kepala SMAN 1 Cimarga, Dini Fitria, akhirnya berdamai dengan orang tua siswa yang sempat melaporkannya ke polisi setelah insiden penamparan. Peristiwa itu terjadi setelah seorang siswa ketahuan merokok di lingkungan sekolah. Kasus tersebut sempat membuat Dini dinonaktifkan dari jabatannya dan memicu perhatian publik terhadap posisi guru dalam menegakkan disiplin di sekolah.

Mediasi antara Dini dan orang tua siswa, Tri Indah Alesti, berlangsung di SMAN 1 Cimarga pada Kamis (16/10). Dalam pertemuan itu, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Dini dan Tri saling memaafkan, dan laporan polisi resmi dicabut. Perdamaian ini disaksikan oleh pihak sekolah, perwakilan dinas pendidikan, serta tokoh masyarakat setempat.

Dalam pernyataannya, Dini menyampaikan rasa lega namun juga kekhawatiran atas dampak kasus ini terhadap para guru. Ia mengaku banyak rekan sejawat kini takut menegur siswa karena khawatir dipersepsikan melakukan kekerasan.

“Saya setuju adanya TPPK (Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan), tapi kami butuh pembinaan jelas. Guru perlu tahu batasan menegur agar tidak dianggap mempermalukan,” ujar Dini.

Menurut Dini, ketakutan guru kini berimbas pada menurunnya disiplin siswa di sekolah. Ia mencontohkan banyak siswa yang dibiarkan berambut gondrong karena guru enggan menegur. Kondisi ini, kata Dini, bisa menurunkan wibawa sekolah dan melemahkan proses pembentukan karakter.

“Baca juga : Kementerian PUPR Hentikan Pembangunan IKN Mulai 2026”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

game perubahan gaya bermain pemain di era multiplayer modern